Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman-pengalaman saya menghadapi sakitnya anak saya. Bisa jadi yang membaca tulisan ini spendapat dengan saya, dan bisa jadi pula tidak. Yang jelas tidak ada maksud untuk menggurui, melainkan sekedar berbagi.
Seperti anak-anak pada umumnya, ketiga bidadari saya juga pernah mengalami sakit, walaupun alhamdulillah, frekuensinya tidak sesering yang dialami teman-teman sepekerjaan. Bisa jadi hal ini disebabkan karena ketiga buah hati kami mendapatkan ASI eksklusif selama 4 - 6 bulan di usia awal kelahirannya. Di samping itu, kami, saya dan suami sependapat untuk sedapat mungkin tidak memberikan obat dokter apalagi obat pasaran di saat anak sakit. Paling-paling kami akan memberikan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Konsekuensinya tentu anak akan mengalami proses penyembuhan yang lebih lama.
Setelah mulai mengikuti pengajian Bengkel Hati-nya Ustadz Danu, wawasan dan keyakinan kami tentang sebab musabab penyakit pada anak bertambah. Kami menjadi yakin bahwa bila anak sakit, maka orang tuanya mesti introspeksi diri tentang dosa-dosa apa yang sebelumnya mereka perbuat hingga menyebabkan anak sakit. Dan ini selalu kami terapkan.
Misalnya ketika anak pertama kami, Rizka, mengalami sakit yang lumayan serius. Dalam proses menahan diri untuk tidak minum obat dokter, kami melakukan berbagai macam upaya untuk memohon petunjuk Allah apa yang harus kami lakukan. Do`a, tahajud, hajat, sedekah. Karena kami yakin bahwa apa yang harus kita lakukan terhadap anak yang sakit harus dengan petunjuk Allah agar semuanya tidak jadi sisa-sia.
Setelah lebih dari seminggu melakukan upaya di atas, Rizka tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. hatiku mulai gelisah, karena tidak biasanya ia sakit demikian lama. Aku selalu menangis dalam sholat malam karena salah satu cobaab yang paling berat buatku adalah sakit pada anak. Pikiran-pikiran buruk selalu ada di kepalaku hingga aku jadi tidak tenang.
Akhirnya, pada suatu malam selesai sholat tahajud, petunjuk Allah datang. Aku seperti disadarkan akan satu kesalahan yang kulakukan dari sebelum anakku sakit. Ya, aku sedang memendam rasa tidak suka dan kecewa yang demikian berat dengan bawahanku yang kuanggap tidak amanah dalam mengerjakan tugas. Sedemikian, hingga kepalaku sering berat karena persoalan itu.
Sadar akan hal tersebut di atas, akhirnya aku mohon ampun pada Allah. rasa kecewa dan tidak suka itupun pelan-pelan kukikis. Aku berusaha untuk ikhlas menerima semuanya dan menyerahkan segala urusan pada Allah. Setelah itu, memang Rizka berangsur-angsur sembuh. Badannya mulai pulih. Dan, yang lebih mengharukan adalah ia tetap bisa berprestasi walaupun 10 hari tidak sekolah dan ujian dalam keadaan lemah dan penglihatan yang agak kabur.
Sekarang, dan Insya Allah seterusnya, setiap anak kami sakit, yang pertama kulakukan adalah introspeksi diri sungguh-sungguh. Lewat diskusi dengan suami atau sholat tahajudku. Hal yang justru kusyukuri adalah Allah mengirimkan tanda-tanda peringatannya hingga kami tidak terlanjur jauh dalam dosa.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah!
Sabtu, 22 Januari 2011
Rabu, 19 Januari 2011
MENJADI BOS YANG BAIK
Setelah mantap untuk menjadi wirausahawan, tugas berikutnya adalah mencari bentuk usaha yang cocok. Setelah itu, menemukan konsep usaha ideal lalu menjalankan kerja marketing. Ternyata pekerjaan memang belum selesai. Ilmu tetap haarus ditambah. Karena yang menyusul kemudian adalah kenyataan bahwa sekarang kita sudah jadi "Bos". Punya pekerja, karyawan. Dan, menjadi bos yang baikpun ternyata merupakan masalah tersendiri. Dan tentu saja merupakan tantangan tersendiri.
Menurut saya, bos atau karyawan hanya sekedar status. Pada dasarnya kedua status itu baik buruknya ditentukan oleh seberapa baik kita menjalaninya. Karena, yang paling baik di antara kamu adalah yang paling taqwa, kata Allah.
Bila ingin menjadi bos yang baik, maka kata kuncinya adalah EMPATI. Kita harus berempati dengan karyawan hingga gaya komunikasi dan keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik. Adil, proposrsional. Bagaimanapun, posisi bos akan memberikan keleluasaan buat kita untuk mendidik orang lain. Menjadikan dia manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja kita harus menjadi teladan buat mereka.
Nah... Dengan demikian, keinginan kita buat menjadi khalifah, memberi manfaat bagi sebanyak mungkin orang lain lebih mudah terwujud bukan...?
Menurut saya, bos atau karyawan hanya sekedar status. Pada dasarnya kedua status itu baik buruknya ditentukan oleh seberapa baik kita menjalaninya. Karena, yang paling baik di antara kamu adalah yang paling taqwa, kata Allah.
Bila ingin menjadi bos yang baik, maka kata kuncinya adalah EMPATI. Kita harus berempati dengan karyawan hingga gaya komunikasi dan keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik. Adil, proposrsional. Bagaimanapun, posisi bos akan memberikan keleluasaan buat kita untuk mendidik orang lain. Menjadikan dia manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja kita harus menjadi teladan buat mereka.
Nah... Dengan demikian, keinginan kita buat menjadi khalifah, memberi manfaat bagi sebanyak mungkin orang lain lebih mudah terwujud bukan...?
Langganan:
Postingan (Atom)